Pesan dan Kesan Selama hampir 1 tahun di UMS :D

Hay guys, mau dengar gak apa yang aku rasain selama ini dikampus UMS itu seperti apa 10 disini aku sedikit berbagi cerita dengan kalian .. semoga tidak jenuh membacanya yaa8

Pertama kali saya masuk UMS itu sebenarnya tidak ada niatan dari awal, tapi saya pun  tetap mendaftar UMS dikarenakan untuk menuruti kemauan orang tua saya yang tidak mengizinkanku untuk bersekolah diluar kota, dan akhirnya perguruan tinggi UMS lah yang aku pilih karena Univ UMS ini yg berdekatan dr rumah.. 9dengan begitu saya pun menjadi Mahasiswi UMS 😀

Saya memilih PGSD ? Mengapa ? 3

karena prodi ini mempunyai areditasi yg sudah bagus”A” itu yg pertama kali membuat saya tertarik untuk memilih prodi ini, disamping itu saya juga melihat kedepannya seperti apa pekerjaan dll sesuai dengan keinginan saya bisa membagi dan menghabiskan waktu dirumah bersama keluarga .. disamping itu orang tua saya juga sangat menyetujuinya 8.

Kesan yang saya rasa selama di UMS Mahasiswa FKIP PGSD selama semester 1 sampai 2 ini sangat menyenangkan, mendapatkan banyak ilmu pengetahuan, baik dari segi analisis, materi dan penyampaian dosen yang sangat bermanfaat. Dosen PGSD uga sangat ramah dan baik dalam bersikap dan berinteraksi terhadap para Mahasiswanya. Meski terkadang galak sii kalau kita ga ngerjain tugas yg ga sesuai dengan aturan wkwkw 6 tapi dosennya tetep asyiik kok…

Pesan saya kali ini, mengapa gedung/ruangan PGSD belum ada si 9 padahal pengembangan uang gedung juga bisa tergolong mahal huhu, selain itu WI-FI juga masih belum lancar dan ada beberapa sebagian harus memakai voucer terlebih dahulu, mana yang dinamakan fasilitas UMS yang baik ? Sebaiknya diperbaiki lagi yaah fasilitasnya agar Mahasiswa/Mahasiswi UMS betah berada di kampus.. hehe 3

Udah dulu yaah ceritanya pesan dan kesanku, semoga dibaca yaah sama pihak UMS wkwkw .. UMS is the best, PGSD Cerdas .. Assalamu’alaikum12

 

 

Mau Tahu Ceritaku ?

Inilah berbagai kumpulan CERPEN lucu dan bisa dipetik pesan dari cerita tersebut. Selamat Membaca ^_^

==========================================================================

Rusa yang Ingin Meminjam Terigu

Sang Rusa ingin meminjam segenggam terigu dari sang DombaSuatu hari, seekor rusa jantan mengunjungi seekor domba dan meminta agar domba tersebut meminjamkan segenggam terigu. Sang Domba kurang yakin terhadap kejujuran sang Rusa dan takut bahwa sang Rusa akan menjadi sulit untuk di kejar apabila sang Rusa lari saat ditagih. Karena itu ia lalu bertanya, apakah sang Rusa mengenal hewan lain yang bisa menjamin kejujuran sang Rusa.

“Ya, ya,” kata sang Rusa dengan yakinnya. “Sang Serigala bisa menjamin kejujuran saya.”

“Serigala!” kata sang Domba yang terkejut.

“Apakah kamu berpikir bahwa saya akan percaya dengan jaminan seperti itu? Saya mengenal sang Serigala! Dia mengambil semua yang dia mau dan kemudian lari tanpa membayar. Kamu juga mungkin seperti dia, kamu dapat berlari dengan kencang sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk menagih hutangmu!”

Kata-kata dari orang jahat, tidak dapat dijadikan jaminan.

Lihat Cerita Selanjutnya yaa…

 ANAK KAMBING DAN SERIGALA

25-anak-kambing-dan-serigala

Seekor anak kambing yang sangat lincah telah ditinggalkan oleh penggembalanya di atas atap jerami kandang untuk menghindari anak kambing itu dari bahaya. Anak kambing itu mencari rumput di pinggir atap, dan saat itu dia melihat seekor serigala dan memandang serigala itu dengan raut muka yang penuh dengan ejekan dan dengan perasaan yang penuh kemenangan, dia mulai mengejek serigala tersebut, walaupun pada saat itu dia tidak ingin mengejek sang Serigala, tetapi karena dia merasa serigala tersebut tidak akan dapat naik ke atas atap dan menangkapnya, timbullah keberaniannya untuk mengejek.

Serigala itupun menatap anak kambing itu dari bawah, “Saya mendengarmu,” kata sang Serigala, “dan saya tidak mendendam pada apa yang kamu katakan atau kamu lakukan ketika kamu diatas sana, karena itu adalah atap yang berbicara dan bukan kamu.”

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari anak kambing dan serigala ini adalah

Janganlah kamu mengatakan sesuatu yang buruk atau kasar kepada siapapun.

Satu lagi Nih ceritanya dari seekor anjing Jangan lupa baca yaa 😀

ANJING DAN TIRAM

Anjing_Tiram_MD

Ada seekor anjing yang sangat senang makan telur. Anjing itu sering masuk ke kandang ayam dan dengan rakusnya menelan telur ayam bulat-bulat.
Suatu hari, sang Anjing berjalan-jalan di pinggiran pantai. Anjing tersebut melihat seekor tiram, dan dalam sekejap sang Anjing menelan bulat-bulat tiram yang disangkanya telur.
Tidak berapa lama kemudian, seperti yang kita duga, sang Anjing merasakan sakit yang hebat di perutnya.
“Saya akhirnya mengerti bahwa tidak semua benda yang berbentuk bulat, adalah telur,” katanya sambil mengerang kesakitan.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari anjing dan tiram ini adalah
Bertindak terlalu tergesa-gesa akan mengakibatkan sesuatu yang buruk.

Demikianlah Ceritanya..
Terimakasih Mau Membaca beberapa Cerpen diatas yaa..

Semoga pembelajaran pesan dari cerita diatas bermanfaat ^_^

 

PELECEHAN SEKSUAL terhadap Anak?

imagesTahukah anda arti dari pelecehan seksual terhadap anak?

Pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksual. Bentuk pelecehan seksual anak termasuk meminta atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasilnya), memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi untuk anak, melakukan hubungan seksual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali dalam konteks non-seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik (kecuali dalam konteks non-seksual seperti pemeriksaan medis), atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak.

Efek kekerasan seksual terhadap anak antara lain depresigangguan stres pascatraumakegelisahan, kecenderungan untuk menjadi korban lebih lanjut pada masa dewasa, dan dan cedera fisik untuk anak di antara masalah lainnya. Pelecehan seksual oleh anggota keluarga adalah bentuk inses, dan dapat menghasilkan dampak yang lebih serius dan trauma psikologis jangka panjang, terutama dalam kasus inses orangtua.

Di Amerika Utara, sekitar 15% sampai 25% wanita dan 5% sampai 15% pria yang mengalami pelecehan seksual saat mereka masih anak-anak. Sebagian besar pelaku pelecahan seksual adalah orang yang dikenal oleh korban mereka; sekitar 30% adalah keluarga dari si anak, paling sering adalah saudara laki-laki, ayah, paman, atau sepupu; sekitar 60% adalah kenalan lainnya seperti ‘teman’ dari keluarga, pengasuh, atau tetangga, orang asing adalah pelanggar sekitar 10% dalam kasus penyalahgunaan seksual anak. Kebanyakan pelecehan seksual anak dilakukan oleh laki-laki; studi menunjukkan bahwa perempuan melakukan 14% sampai 40% dari pelanggaran yang dilaporkan terhadap anak laki-laki dan 6% dari pelanggaran yang dilaporkan terhadap perempuan.Sebagian besar pelanggar yang pelecehan seksual terhadap anak-anak sebelum masa puber adalah pedofil, meskipun beberapa pelaku tidak memenuhi standar diagnosis klinis untuk pedofilia.

Berdasarkan hukum, “pelecehan seksual anak” merupakan istilah umum yang menggambarkan tindak kriminal dan sipil di mana orang dewasa terlibat dalam aktivitas seksual dengan anak di bawah umur atau eksploitasi anak di bawah umur untuk tujuan kepuasan seksual. Asosiasi Psikiater Amerika menyatakan bahwa “anak-anak tidak bisa menyetujui aktivitas seksual dengan orang dewasa”, dan mengutuk tindakan seperti itu oleh orang dewasa: “Seorang dewasa yang terlibat dalam aktivitas seksual dengan anak adalah melakukan tindak pidana dan tidak bermoral yang tidak pernah bisa dianggap normal atau perilaku yang dapat diterima secara sosial.”

HUKUMAN BAGI PELAKU PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK DIBAWAH UMUR DI INDONESIA

stop_kekerasan

Perlu dibuktikan dan diterangkan lebih lanjut perbuatan apa yang dilakukan anak laki-laki dan perempuan tersebut, apakah perbuatan cabul atau benar-benar melakukan hubungan layaknya suami-istri (hubungan seksual/persetubuhan).  Meski demikian, persetubuhan masuk pula dalam lingkup perbuatan cabul walaupun di undang-undang disebutkan sendiri.

Dalam praktiknya, perkara perbuatan cabul dan persetubuhan ini diadili oleh hakim berdasarkan pasal perbuatan cabul dalam UU Perlindungan Anak.

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

Ulasan

  1. Perbuatan Cabul Terhadap Anak

Sebelumnya, kami sampaikan bahwa kedua laki-laki dan perempuan tersebut masih digolongkan sebagai anak. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.[1]

Sebagaimana pernah dijelaskan dalam artikel yang berjudul Jerat Hukum dan Pembuktian Pelecehan Seksual, Ratna Batara Munti dalam artikel berjudul “Kekerasan Seksual: Mitos dan Realitas” menyatakan antara lain di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana(“KUHP”) tidak dikenal istilah pelecehan seksual. KUHP, menurutnya, hanya mengenal istilah perbuatan cabul, yakni diatur dalam Pasal 289 sampai dengan Pasal 296 KUHP. Mengutip buku “KUHP Serta Komentar-komentarnya” karya R. Soesilo (hal. 212), Ratna menyatakan bahwa istilah perbuatan cabul dijelaskan sebagai perbuatan yang melanggar rasa kesusilaan, atau perbuatan lain yang keji, dan semuanya dalam lingkungan nafsu berahi kelamin. Misalnya, cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada, dan sebagainya; termasuk pula persetubuhan namun di undang-undang disebutkan sendiri.

Menurut Ratna, dalam pengertian itu berarti, segala perbuatan apabila itu telah dianggap melanggar kesopanan/kesusilaan, dapat dimasukkan sebagai perbuatan cabul. Sementara itu, istilah pelecehan seksual mengacu pada sexual harassment diartikan sebagaiunwelcome attention (Martin Eskenazi and David Gallen, 1992) atau secara hukum didefinisikan sebagai “imposition of unwelcome sexual demands or creation of sexually offensive environments“.

 

 

Jika memang perbuatan yang dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan itu berupa perbuatan cabul yang diawali dengan rayuan terlebih dahulu maka perbuatan tersebut melanggar Pasal 76E UU 35/2014 yang menyatakan:

“Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.”

Hukuman atas perbuatan tersebut diatur dalam Pasal 82 UU 35/2014 sebagai berikut:

(1)  Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2)  Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

  

Dari rumusan pasal di atas terlihat bahwa tidak ada keharusan bahwa tindakan pidana tersebut harus dilaporkan oleh korbannya. Dengan demikian, delik pencabulan terhadap anak merupakan delik biasa, bukan delik aduan. Oleh karena itu, orang lain boleh melaporkan kejadian ini.

Perlu diketahui pula bahwa dalam pasal tersebut tidak diatur mengenai siapa yang melakukan tindakan pidana tersebut, apakah orang yang sudah dewasa atau anak-anak. Oleh karena itu, anak-anak pun dapat dipidana berdasarkan pasal ini.

  1. Hubungan Seksual Terhadap Anak

Akan tetapi, pada pertanyaan Anda dikatakan bahwa anak laki-laki dan perempuan tersebut melakukan hubungan suami istri (hubungan seksual/persetubuhan) dengan cara si laki-laki membujuk/merayu terlebih dahulu. Jika sampai melakukan persetubuhan (bukan hanya sebatas perbuatan cabul tanpa persetubuhan), maka pelakunya dapat dijerat pidana karena melakukan persetubuhan dengan anak.

Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain; dipidana dengan pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar.[2]

Ancaman pidana di atas berlaku bagi mereka yang sudah dewasa. Sedangkan ancaman pidana penjara bagi anak yang melakukan tindak pidana adalah paling lama 1/2 dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa.[3]

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa pada prakteknya anak yang melakukan tindak pidana persetubuhan dengan anak lain, bisa juga dijerat dengan pasal mengenai perbuatan cabul, bukan pasal tentang persetubuhan.

Contoh Kasus

Sebagai contoh kasus persetubuhan yang dilakukan oleh anak laki-laki terhadap anak perempuan dengan cara membujuk/merayu dapat kita lihat dalam Putusan Pengadilan Negeri Tondano Nomor 06/Pid.Sus.Anak/2015/PN.Tnn.

 

Pelaku dan korban melakukan persetubuhan. Akan tetapi, berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan, terdapat perbedaan keterangan. Menurut keterangan saksi korban, saksi korban dan anak tersebut telah melakukan persetubuhan. Sedangkan menurut terdakwa, tidak terjadi persetubuhan. Visum et repertum pun hanya memberikan keterangan bahwa memang ditemukan robekan pada kelamin korban, akan tetapi tidak menerangkan apakah kerusakan alat kelamin korban diakibatkan masuknya kelamin terdakwa atau jari tangan. Karena itu, hakim menimbang bahwa sulit untuk membuktikan apakah persetubuhan benar terjadi.

Meski demikian, hakim berpendapat bahwa perbuatan yang dilakukan oleh anak tersebutsudah merupakan perbuatan cabul yang lingkupnya lebih luas dari perbuatan persetubuhan.

Akhirnya, dengan menimbang pada Pasal 82 ayat (1) UU 35/2014, Hakim menyatakan bahwa anak tersebut terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “membujuk anak untuk melakukan perbuatan cabul dengannya” dan menjatuhkan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan pelatihan kerja yang diselenggarakan oleh Balai Pemasyarakatan (BAPAS) Manado untuk jangka waktu 90 hari kerja.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar Hukum:

  1. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana;
  2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anaksebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014;
  3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Tanya Hatiku…

images (1)

Raut wajahmu selalu muncul di setiap anganku,

Ingin ku memiliki nya tetapi ku ragu dapatkah ku mendapatkannya?

Zaman telah silih berganti seiring sejalannya waktu

Ku tak tahu harus bagaimana..

Inginku curahkan isi hatiku tetapi ku tak mampu,

Cinta mengapa kau datang secara tiba-tiba?

Aku ingin berkata, aku sayang padanya tetapi aku takut,

Hanya aku sendiri dengan memendam segala rasa dan bertanya dalam hati..

Yang selalu datang menghantui fikiranku,

Apakah benar ini yang dinamakan cinta?

Nian kau akan mengerti perasaanku,

Tanpa ku harus berkata jujur,

Inilah hatiku yang sebenarnya”

 

Keindahan Pantai…

Pemandangan-Pantai-BoraBora-Island-Polynesia

Pada hari Minggu, tepatnya pukul 08.30 pagi, aku dan keluargaku berlibur ke Pantai Indrayanti. Sebelum kami berangkat ke pantai Indrayanti, aku mempersiapkan makanan dan minuman untuk kami nikmati di sana. Sedangkan keluargaku mempersiapkan kendaraan yang akan kami pakai. Setelah semuanya siap, kami langsung berangkat menuju pantai Indrayanti. Selama di perjalanan, aku sangat kagum dengan keindahan alamnya. Jalannya yang berkelok-kelok seperti gelombang, sawahnya yang berjejer dengan rapih, dan suasana pegunungan yang sangat indah. Ternyata begitu besar Karunia yang telah Allah SWT berikan untuk kita semua. Sesampainya di pantai, kami langsung mencari tempat yang teduh. Kebetulan hari itu cuacanya cukup panas jadi kami harus mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Setelah mendapatkan tempat yang cocok, aku dan sepupuku langsung bergegas menuju pantai. Kami langsung berenang sambil menikmati deburan ombak yang menghampiri tubuh kami. Saat aku sedang menikmati suasana pantai, Mamah memanggilku untuk bergegas ke tepian untuk menikmati air kelapa muda yang telah di pesan. Setelah itu, orang tuaku meminta kami untuk berhenti berenang dan segera membersihkan badan kami yang penuh dengan pasir. Karena waktu juga telah menunjukkan pukul 03.00 sore. Tentu saja kami mengikuti permintaan mereka. Sebelum kami pulang, tak lupa kami menikmati makanan dan minuman yang telah kami persiapkan dari rumah. Setelah semuanya merasa puas bermain, kami memutuskan untuk segera pulang. Liburan kali ini memberikan kenangan tersendiri bagiku. Semoga liburan lain kali bisa lebih berkesan lagi daripada liburan hari ini 😀